Sunday, October 20, 2019

YESUS SEDANG MENYAMAR

"Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku".
MATIUS 25:40


Ketika seorang kawan sedang merawat ibu mertuanya dirumah, ia bertanya kepada ibu mertuanya apa yang paling diinginkannya. Mertuanya betkata, "aku mau kakiku dicuci". Kawan saya mengakui, dia tidak menyukai melakukannya. Tiap kali beliau memintaku melakukannya, teman saya menjadi jengkel. bahkan teman saya berdoa agar ibu mertuanya tidak mengetahui sesunguhnya ia tidak ingin melakukannya.
Suatu hari sikap sungut-sungutnya itu lenyap dalam sekejap. Ketika mengambil air dan handuk untuk membasuh kaki ibu mertuanya, ia berkata saat itu ia merasa seperti sedang membasuh kaki TUHAN YESUS. Ibu mertuaku adalah YESUS yang sedang menyamar, pungkasnya. Sambil mengakhiri obrolan hari itu.
Saya tersentuh mendengar pengalaman teman saya itu. Saya teringat pada perkataan Yesus yang Ia ajarkan di bukit Zaitun. YESUS bercerita tentang Raja yang menyambut putra dan putriNya ke dalam kerajaanNya, dengan berkata bahwa ketika mereka mengunjungi orang sakit atau memberikan makan orang yang lapar, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melalukannya untuk YESUS (Matius 25:40).
Kita melayani YESUS ketika membantu sesama kita yang membutuhkan ulurangan tangan kita.


Friday, October 18, 2019

TAHAN TERHADAP GODAAN

"Syukur kepada Allah! Oleh Yesus Kristus, Tuhan kita"
Roma 7:25

Kecanduan pada obat-obatan terlarang, alkohol, seks, atau judi telah merusak kehidupan banyak olahragawan di seluruh dunia. Terkadang kita merasa heran mengapa para pesepakbola dunia yang punya talenta itu dapat dengan mudah terjerat hingga membahayakan karier dan keluarga mereka. Para Ahli percaya bahwa kuatnya ciri kepribadian obsesif-kimplusif yang sebenarnya telah mendukung mereka untuk meraih prestasi justru membuat para pesepakbol cenderung lebih mudah  kecanduan daripada kebanyakan orang lainnya. Segala kemewahan dan perhatian yang mereka terima, serta usia yang rata-rata masih muda, juga ikut memperburuk masalah ini. Apalagi ketika mereka berlimpah dengan uang dan waktu senggang, maka terciptalah  suatu keadaan yang membuat mereka terlena.

Apakah kita juga terjerat dalam kecanduan yang melumpuhkan hidup? Jika ya, kita tidak sendiri. Setiap orang berjuang melawan godaan, termasuk Rasul Paulus yang menulis sebagian dari kitab dalam Alkitab Perjanjian Baru. Ia menulis, "Sebab apa yang aku berbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat" [Roma 7:15]. Menurut Rasul Paulus, masalah yang sesungguhnya terdapat dalam diri manusia, bukan dari luar: "Tetapi dosa yang ada di dalam aku" [Ayat 17]. Kita harus berhenti menyalahkan faktor-faktor eksternal dan berusaha mengatasi sifat kedagingan yang membuat kita rentan godaan. Namun "Siapakah yang akan melepaskan aku dari maut?" [Ayat 4]. Jawabannya, "Yesus Kristus, Tuhan kita" [Ayat 25]. Yesus datang untuk memberi kita kemenangan atas dosa.


KETIKA KITA MENYALAHKAN ORANG LAIN, KITA MEMBUANG HARAPAN TERJADINYA PERUBAHAN YANG SEJATI

SUNGGUH-SUNGGUH

Amsal 10:1-17
“Upah pekerjaan orang benar membawa pada kehidupan, penghasilan orang fasik membawa dalam dosa”
AMSAL 10:16

Pasti semua kenal sama Thomas Alva Edison, penemu dan pengusaha yang telah menemukan berbagai macam peralatan penting. Namun tidak sedikit orang yang tahu tentang masa kecil Thomas Alva Edison. Thomas pernah diberhentikan dari sekolah oleh ibunya, dikarenakan ia selalu mendapat nilai yang buruk. Tapi Thomas tidak putus asa, ia menghabiskan waktunya dirumah dengan membaca buku-buku ilmiah. Ia juga melakukan percobaan-percobaan ilimiah sendiri. Pada usia 12 tahun ia mulai bekerja sebagai penjualn Koran, buah-buahan, dan gula-gula dikereta api. Akhir dari segala kerja kerasnya, saat ini ia dikenal dunia sebagai seorang penemu lampu pijar pertama di dunia. Itulah hasil dari kerja keras yang Thomas Alva Edison lakukan.
    Sikap yang tidak putus asa, itulah yang harus kita lakukan untuk mendapatkan hasil yang sangat memuaskan. Thomas telah membuktikan kepada kita bahwa hanya dengan bekerja keras kita akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Sayangnya saat ini begitu banyak orang yang malah mencari pekerjaan dengan cara-cara yang tidak terpuji. Untuk mendapat uang yang banyak, seseorang dengan sengaja memakai uang Negara untuk kepentinganya sendiri. Cara yang tidak terpuji itu kebanyakan tidak akan bertahan lama. Lihat saja sudah banyak orang yang memakai uang Negara yang berada didalam jeruji besi.
    Jika kita bekerja dengan benar maka hasil yang akan kita dapatkan akan membawa kita pada kehidupan yang berkenan dihadapanNya. Sebaliknya orang yang bekerja dengan cara yang tidak terpuji akan membawa dia dalam dosa. Mendapatkan penghasilan tidak harus dengan cara mengorbankan orang lain atau dengan memakai uang Negara. Sebagai orang yang cara-cara tidak terpuji harusnya tidak menjadi bagian hidup dalam mencari nafkah.
    Mari berusaha dengan bekerja keras dan tidak putus asa ketika kegagalan datang dalam pekerjaan. Jangan pernah menyerah terhadap kegagalan teruslah mencoba. Dan selalu sertakan Tuhan dalam setiap usaha dan kerja keras kita, niscaya akan membuahkan hasil sesuai dengan apa yang Tuhan ijinkan.

BEKERJALAH DENGAN MEMAKAI CARA YANG BENAR, DENGAN BEGITU KITA MENUNJUKAN BAHWA KITA ADALAH ANAK-ANAK ALLAH

Thursday, October 17, 2019

Buah Ketekunan


Roma 5:1-11
“Ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan”
Roma 5:4

Seorang pemuda berusia dua puluh tahun bermimpi suatu hari nanti ia menjadi seorang jutawan. Ia sadar bahwa impian adalah sesuatu hal yang bisa membangkitkan semangat dan arah bagi kehiupan manusia. Impian itu yang kemudian disampaikannya kepada sang kekasih. Beberapa waktu kemudian setelah menikah.
   Sayangnya, tidak lama kemudian terjadi krisis ekonomi yang sangat parah. Pasangan ini kemudian mengalami berbagai macam peristiwa menyedihkan dalam kehidupan mereka. Mulai dari kehilangan pekerjaan, rumah dan mobil yang digadaikan. Hingga tabungan yang kian menipis. Lelaki ini menjadi  frustasi, ia kerap duduk termenung seorang diri. Bahkan ia menyarankan agar isterinya meninggalkan dia. Ia merasa tidak mampu menjadi suami yang baik bagi isterinya dan merasa gagal dalam menjaga isterinya.
  Hidup itu adalah misteri dan siapa yang menduga sang isteri tidak kehilangan harapan sedikitpun. Ia tetap setia terhadap suaminya, bahkan ia tidak kehilangan harapan sedikitpun. Ia menguatkan suaminya, dengan tidak bosan-bosan meyakinan kepada suaminya bahwa impian untuk menjadi jutawaan belum mati dan mereka bisa mevapainya secara bersama-sama. “Suamiku, kita harus melakukan sesuatu agar impian kita itu tetap hidup”. Perkataan ini selalu ia ungkapkan kepada suaminya, namun jawaban suaminya bahwa impian kita telah mati dan kita telah gagal. Namun sang isteri terus meyakinkan kepadanya bahwa impian tu belum mati. Untuk menjaga impian itu tetap ada dalam kehidupan suaminya. Ia mengaja suaminya untuk merancang apa yang akan mereka lakukan jika suatu saat nanti mereka menjadi jutawan.
   Karena ketekunan isterinya yang terus meyakinkannya. Impian yang sudah lama terkubur dalam-dalam itu kini kembali menggebu dalam hatinya. Akhirnya sang suami mendapatkan ide yang brilian, menciptakan permainan monopoli. Setelah menciptakan permainan monopoli Charles Darow dan Isterinya Esther menjual permainan tersebut kepada seorang pengusahan dengan harga satu juta dolar dan impian jadi jutawanpun terwujud.
   Ketekunan menghasilkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan suatu harapan [Roma 5:4]. Ayat ini yang membuat Esther kuat dan dengan kesungguhan menguatkan suaminya dan pada akhirnya mereka berhasil. Dunia kerja juga tidak terlepas dari yang namanya ketekunan. Jika kita tidak mempunyai kesungguhan dalam melakukan sebuah pekerjaan. Maka apa yang kita kerjakan itu akan sia-sia saja. Sudah begitu banyak orang yang sudah tidak memiliki ketekunan dalam dunia kerja sehingga bisa kita lihat begitu banyak orang yang pindah-pindah
   Keberhasilan seorang pekerja disebabkan oleh ketekunannya dalam melakukan pekerjaan tersebut. Pekerjaan sekecil apapun jika dikerjakan dengan penuh kesungguhan hati, pasti akan menghasilkan sesuatu yang sangat berguna bagi kehidupan kita dan keluarga.

PERUBAHAN YANG BESAR BERAWAL DARI KETEKUNAN

Mncintai Pekerjaan


Lukas 19:1-10
Tuhan setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin”
Lukas 19:8

Petrus Waldus adalah seorang pedagang kayu yang kaya dari kota Lyons. Awalnya Petrus adalah seorang yang sangat hedonis, suka menikmati kemwahan dan kesenangan hidup.  Perubahan hidupnya terjadi ketika suatu hari ia sedang bercakap-cakap dengan seorang temanya, dan tiba-tiba temanya itu meninggal dunia didepannya. Petrus Waldus menjadi amat kaget sekali. Sejak saat itu ia menjadi sadar bahwa mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dan untuk dimakan sendiri ternyata tidak banyak artinya sebab ternyata manusia dapat mati sewakti-waktu.
   Ketika ia menyadari tentang arti hidup yang sesungguhnya maka Waldus memutuskan untuk menjadi pengikut Yesus. Bahkan untuk menopang pelayanannya Petrus Waldus yang kaya mengorbankan semua hartanya dan memberikan kepada orang-orang miskin yang dijumpainya.
   Kehidupan Zakheus tidak jauh berbeda dengan Petrus Waldus. Awalnya sebelum bertemu Yesus, Zakheus adalah seorang pemungut cukai yang kaya. Setelah pertemuan dengan Yesus, Zakheus memutuskan untuk membagikan sebagian hartanya untuk dibagikan kepada orang miskin. Sekaligus untuk membantu pelayanan Tuhan Yesus dalam memberitakan Injil.
   Bekerja bukan hanya untuk mengejar materi semata, melainkan lebih dari itu. Prinsip mengejar materi yang dipakai saat ini adalah keliru. Sudah begitu banyak contoh disekeliling kita, seorang pekerja melakukan hal tidak terpuji. Melakukan korupsi salah satu diantaranya. Sehingga tidaklah mengherankan orang-orang yang melakukan hal tersebut berada dibelakang terali besi.
   Petrus Waldus dan Zakheus menyadari hal tersebut. Rasa sadar itulah yang membuat Petrus Waldus dan Zakheus memutuskan untuk bekerja sepenuh hati. Dan untuk menopang pelayanan Zakheus tidak segan-segan membagikan sebagian harta milik mereka untuk dipakai dalam pekerjaan Tuhan [Lukas 19:8]. Inilah bukti kecintaan kepada Tuhan. dahulu Zakheus bekerja dengan motivasi yang salah. Setelah perjumpaan dengan Yesus, semua kehidupan zakheus berubah.
Tuhan tidak melarang kita menjadi orang yang kaya. Namun jika kekayaan yang itu kita dapatkan dengan cara-cara yang tidak benar apalagi dengan mengorbankan orang lain. Hal itulah yang Tuhan tidak inginkan. Oleh sebab itu memiliki tujuan yang jelas dalam bekerja, adalah hal yang harus dilakukan bagi seorang pekerja. Hanya dengan cara itu maka seorang pekerja tidak akan melakukan segala cara untuk mendapatkan jabatan dan materi. Bekerjalah dengan menyertakan Tuhan dan tetap bersyukur atas pekerjaan yang kita lakukan hari ini.

Satu-satunya cara untuk melakukan pekerjaan yang hebat adalah dengan mencintai apa yang kamu lakukan
Steve Jobs

Wednesday, October 16, 2019

SUNGGUH-SUNGGUH DALAM BEKERJA


Kolose 3:22-25
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan  dan bukan untuk manusia”
Kolose 3:23


Seorang karyawan setiap harinya selalu bersungut-sungut dalam bekerja.
Ketika di depan atasan dia sangat rajin dalam mengerjakan pekerjaan yang ditugaskan untuknya. Bahkan dialah orang yang paling gesit dalam melakukan pekerjaan. Namun setelah atasan beranjak pergi untuk mengontrol pekerjaan yang lain, kini giliran dia yang memerintah sana-sini dan berlagak seperti seorang atasan. Setiap harinya kerjaannya begitu-begitu saja. suatu kali, dengan tanpa pemberitahuan, pemimpin perusahan datang dengan tiba-tiba dan mendapatkan bahwa ia hanya bersantai saja, sambil bermain internet. Akhir dari cerita itu, sang pekerja yang hanya mencari pujian akhirnya dipecat.
    Rasul Paulus menasehatkan kepada setiap para pekerja Kristen untuk bekerja dengan sepenuh hati. Bahkan menganggap pekerjaan yang dipercayakan kepada kita sebagai suatu bentuk pelayanan kepada Tuhan. Bekerja dengan segenap hati dengan tidak bersungut-sungut. Kita harus bekerja bukan hanya ketika sedang diawai atasan dan memiliki motivasi untuk dipuji dan mendapatkan kenaikan jabatan. Namun hendaklah kita bekerja dengan tulus hati, dengan sikap pengabdian yang tulus. Seluruh pekerjaan, bagi orang Kristen, adalah terutama untuk Tuhan yang menghakimi dengan segenap kejujuran dan keadilan.
    Semua pekerja pastinya ingin dipuji dan ingin mendapatkan kenaikan jabatan. Namun tidaklah elok jika kita bekerja dengan gesit ketika atasan sedang mengawasi kita. Walaupun memang bos kita, tidak sedang mengawasi kita, namun kita haruslah tetap gesit dalam melakukan pekerjaan. Ingat Tuhan tidak pernah menutup mata ketika melihat anak-anakNya yang bekerja dengan sepenuh hati dengan ketulusan dan kejujuran. Mari menggunakan cara-cara yang bijak untuk mendapatkan pujian dan kenaikan jabatan. Kerjakan tugas yang dipercayakan kepada kita dengan sungguh-sungguh. Jangan kita menjadi seperti karyawan dalam ilustrasi diatas dipecat dari pekerjaan.
    Utamakan kejujuran dalam melakukan pekerjaan, jangan meniru sikap-sikap yang buruk yang ada disamping kita. Kejujuran adalah harga mati yang harus dilakukan bagi setiap pekerja Kristen. Tuhan akan membantu kita dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan. Minta Tuhan untuk membimbing kita, agar tetap bekerja dengan ketulusan hati dan agar tetap menjadi pekerja yang bukan hanya mencari pujian saja.

JUJURLAH TERHADAP DIRI ANDA, TERHADAP KERABAT TERLEBIH KEPADA TUHAN

KECEMASAN


1 Petrus 5:7-11
“Janganlah kuatir akan hidupmu…?”
(Matius 6:25)
Norman Mailer seorang penulis Amerika kenamaan mengatakan bahwa  manusia saat ini senantiasa diliputi oleh kecemasan. Tetapi menurutnya kekuatiran dan kecemasan itu adalah alamiah. Biasa! Bahkan merupakan ciri khas manusia abad super modern ini. Benarkah pendapat penulis itu?
    Kenyataannya kecemasan memang telah menjadi masalah manusia saat ini. Parahnya, kecemasan itu tidak hanya milik manusia duniawi saja, tetapi juga milik sebagian besar manusia yang menyatakan diri percaya Yesus. Mengerikan, tetapi begitulah kenyataannya. Haruskah kita takluk pada hidup di bawah bayang-bayang kecemasan dan ketakutan? Tentu tidak sebab jika demikian maka sia-sialah iman kita.
    Persoalan kecemasan jika dicermati ternyata bukan sekedar persoalan psikis semata, tapi merupakan suatu masalah rohani yang serius dan perlu diatasi. Menurut hamba-hamba Tuhan yang meneliti tentang hal ini, ternyata kecemasan disebabkan oleh kurangnya kekuatan rohani, dan hanya dapat dihilangkan dengan kekuatan rohani pula, yaitu oleh Roh Kudus Tuhan.
    Kecemasan merupakan keadaan emosi yang menimbulkan perasaan takut berlebihan akan tertimpa bahaya, kehilangan sesuatu yang berharga atau gagal mencapai suatu sasaran. Sekalipun begitu, kecemasan tidak sekedar pengalaman emosional semata. Kecemasan mempengaruhi dan menghambat keefektifan kegiatan manusia. Sebagai orang Kristen kita harus senantiasa bertumbuh menjadi dewasa. Kecemasan dan ketakutan itu melemahkan iman dan mengurangi kesaksian Kristiani bahkan dapat membuat manusia menyangkal Tuhan.
    Saudaraku terkasih, kecemasan itu sangat merusak iman. Karena itu jemaat Tuhan di zaman Petrus menyadari hal itu dan mereka hidup tanpa kecemasan karena tahu bahwa hidup itu ada di tangan Tuhan(Filipi 4:6; 1 Petrus 5:7). Kecemasan seperti singa yang mencari mangsa(ayat 8), karena itu perlu dilawan dengan iman(ayat 9) agar Kristus melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kita untuk menerima kemuliaan kekal(ayat 10). Amin!


MOTIVASI DALAM MEMBERI

Markus 14:3-9
“Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan”
Filipi 2:13


Beberapa waktu yang lalu website www.apakabardunia.com memuat  kisah nyata tentang pengayuh becak yang bernama Bai Fang Li. Bai Fang Li adalah kakek yang berusia 91 tahun. Melalui hasil mengayuh becak sang kakek menyumbangkan hasil dari pekerjaannya untuk sebuah yayasan yatim piatu. Total sumbangan yang ia berikan pada yayasan itu 350.00 yuan atau setara dengan Rp 472,5 juta. Tahun 2005 kakek ini meninggal setelah terserang penyakit kanker paru-paru.
   Kerelaan juga dapat kita lihat dari kisah seorang wanita yang mengurapi Tuhan Yesus. Ketika Yesus sedang berada di Betania, datanglah seorang wanita membawa buli-buli pualam berisi minyak narwastu. Kemudian, ia mencurahkan minyak itu dan mengurapi kepala Yesus. Tidak ada seorang pun yang menyuruh ia melakukan hal tersebut, dia melakukan itu atas inisiatifnya sendiri. Wanita ini tidak memikirkan tentang mahal atau tidaknya minyak narwastu itu.
   Cara terbaik dalam memberi adalah tidak memikirkan imbalan apa yang akan kita terima. Namun kenyataan sekarang berbanding terbalik, banyak orang berlomba-lomba memberi hanya untuk agar supaya dipandang orang. Jika dalam memberi kita masih memikirkan imbalan maka harusnya Anda malu dan contohlah kakek Bai Fang Li dan wanita yang diurapi Yesus mereka dalam bekerja tidak memikirkan untung dan rugi. Tetapi bagaimana menyenangkan hati Tuhan. Milikilah hati yang rela memberi karena itu adalah kunci untuk melayani Tuhan dengan sukacita.

Diberkatilah orang-orang yang memberi tanpa mengingat dan yang menerima tanpa lupa. (Elizabeth Bibesco)

BELAJARLAH KEPADA SEMUT

Bacaan: Amsal 6:6-11

Kemalasan merupakan kenyataan yang disoroti dalam masyarakat dari dulu sampai sekarang ini. Pada hakikatnya, kemalasanlah penyebab dari adanya kemiskinan. Kemalasan yang  berakibat pada kemiskinan, memang ditakutkan oleh para Guru Hikmat. Mereka kemudian berupaya mengajarkan agar umat memiliki hikmat sebagai panduan hidup. Ini dengan maksud, agar umat mencapai kehidupan sesuai dengan kehendak Ilahi demi  menikmati keberhasilan hidup. Amsal mencela orang pemalas bukan sekedar kemalasannya, tetapi dosa yang terkait dengan kemalasan itu. Kemiskinan yang diakibatkan oleh kemalasan adalah dosa.
    Belajar kepada semut menuntun umat untuk melihat ketekunan, disiplin dan kerajinan yang dilakukanya untuk menjaga hidup. Orang malas dapat belajar dari semut dengan memperhatikan bagaimana semut bekerja keras. Semut tak pernah berhenti bekerja dan tak memboroskan banyak waktu. Dengan belajar dari semut, pemalas didorong untuk meneladaninya dan menjadi bijak. Orang malas segan untuk mengantisipasi kesulitan masa depan dan tak mau bersiap untuk mengatasinya. Karena itu mereka akan mengisi hari-harinya dengan makan, foya-foya dan tidur. Seorang pemalas intelektualitasnya juga lemah, ia tidak hanya tak bersedia, tetapi memang tak mampu mengantisipasi kesulitan dan mencari solusinya. Kemalasan membuat ia tak dapat melindungi diri dari kemiskinan dan kekurangan yang datang seperti “penyerbu”.
    Semut dapat bekerja dengan hasil maksimal karena tiap-tiap semut mampu mendisplinkan dirinya. Spesifikasi dari sikap dan tingkahlaku semut, yang perlu diobservasi dan diteladani adalah pertama, semut tidak mempunyai pemimpin tetapi bekerja dengan teratur dan efiesen; kedua, semut mengumpulkan makanan untuk masa depan. Firman ini bertujuan untuk menegur perilaku umat supaya bangkit dan bekerja untuk melakukan pembaharuan hidup, agar kesejahteraan dinikmati. Kemalasan bukan hanya mengakibatkan kemalasan tapi juga dosa sebab dari kemalasan terbitlah berbagai niat jahat dan perbuatan-perbuatan jahat. Karena itu kemiskinan membutuhkan tindakan pembebasan yang dimulai dari si miskin sendiri, bukan dari orang lain. 

GAMBAR ALLAH

Kolose 1:15-19
Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan”
Kolose 1:15

 Seorang anak laki-laki memandang ke atas langit dan bertanya kepada papanya. “Apakah Tuhan diatas sana?” Papanya meyakinkan dia bahwa Tuhan memang diatas sana, si anak itu pun berkata: “Tidakkah akan menyenangkan  bila Tuhan mau menunjukan kepalaNya dan membiarkan kita melihat Dia?’ Hal yang tidak dipahami anak kecil ini bahwa Tuhan telah memperkenankan kita melihat Dia dalam pribadi Anak-Nya. Dengan mengutus Dia ke dunia sebagai manusia. Kita seharusnya tidak perlu menjadi seperti anak kecil ini menerka Tuhan itu seperti apa atau pun memberikan respon seperti anak kecil tadi yang memandang keatas langit. Namun sangat disayangkan pada kenyataannya banyak orang yang jadi seperti anak kecil ini. Mereka berlomba-lomba
      Allah menyatakan diri kepada kita melalui anakNya yang tunggal Tuhan kita Yesus Kristus. Dia meninggalkan kemuliaan Sorgawi dan turun kedunia untuk dilahirkan oleh seorang perawan semua itu dilakukan untuk menyelamatkan kita dari hukuman dosa. Semua gelar yang tak terbatas tinggal di dalam Dia. Sesungguhnyalah “segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia” dan “Ia ada telebih dahulu dari segala sesuatu ada di dalam Dia” (Kolose 1:16,17).
      Kini ketika merayakan natal marilah kita ingat siapa Dia. Kita dapat melihat kesucian, anugerah dan kasih Bapa Surgawi kita yang kekal. Kesadaran ini seharusnyalah membuat kita berbahagia. Karena kita sedang menatap Dia, yang melangkah keluar dari Surga dan datang ke dunia ini. –